Bagi sebagian orang, dunia pecinta alam barangkali hanya tentang pendakian gunung, kabut pagi, dan jalur terjal di tengah hutan. Namun, ketika panggilan kemanusiaan berderap, dari sanalah ketangguhan sejati diuji. Peran inilah yang dibuktikan secara nyata oleh Mapala Gemarawana Telkom University Bandung, yang melangkah dari rimba kampus menuju pusat medan bencana di Sumatra, mengemban amanah sebagai Komandan Lapangan dalam misi panjang lintas organisasi.
Di bawah panji Kesatgasan Keluarga Besar Pecinta Alam Bandung Raya (KBPA-BR) yang dideklarasikan pada (05/12/25), Mapala Gemarawana Telkom University Bandung mengemban amanah sebagai Komandan Lapangan dalam misi kemanusiaan di Sumatra. Bersama Himpala Itenas Bandung (Satgas) serta aliansi lintas bendera—Mapala Langit Biru Cirebon, Arga Wilis ISBI Bandung, FK3I Jabar, Dharmapala Indramayu, dan Palatra STIE Tridarma Bandung, PA Umum Sadawana, Panter Burangrang, dan lain-lainnya yang terlibat
Perjalanan 9 Hari Menembus Batas
Operasi kemanusiaan ini membentang selama lima bulan di lapangan. Perjalanan dimulai (18/12/25) dengan rute darat selama sembilan hari bersama Pak Leo, Founder Bikers Brotherhood 1% MC, mengendarai truk militer Inggris Reynolds Boughton RB44 membelah Lintas Sumatra.
Tujuannya adalah titik-titik paling membutuhkan di Sumatra Utara dan Aceh. Di Desa Saitkalangan, Dusun Hutaraja-Haramonting (Tapanuli Tengah), serta Rejepayung (Aceh Tengah), aliansi KBPA langsung mendirikan pusat komando pelayanan warga: Pos Masyarakat Penanggulangan Bencana (PMPB) HUNTAR dan PMPB Rejepayung. (27/12/25)
Ujian Nyata di Hutanabolon: Terkepung Arus, Lepas dari Maut
Medan tugas kemanusiaan tidak pernah berkompromi dengan bahaya. Pada 11 Februari 2026, ujian paling mendebarkan pecah di kawasan Hutanabolon, Tapanuli Tengah. Tanggul air jebol secara mendadak, memicu terjangan banjir bandang susulan yang dahsyat dan sempat menjadi sorotan langsung Bupati Tapanuli Tengah, Masinton Pasaribu.
Di tengah terjangan arus deras yang meluluhlantakkan kawasan tersebut, dua personel garda depan aliansi—Komandan Lapangan Gemarawana, Lhse Zihni Naufal Zuhri, bersama personil Arga Wilis, Fahri—berada tepat di titik pos krusial kejadian. Mereka sempat terisolir dan terjebak beberapa waktu lamanya di tengah kepungan air bah yang meluap tinggi.
Namun, berbekal naluri lapangan, ketenangan mental, dan pertahanan hidup ala penggiat alam, keduanya tidak hanya berhasil menyelamatkan diri, tetapi juga bergerak taktis memimpin evakuasi guna menyelamatkan para warga sekitar dari amukan arus susulan sebelum situasi benar-benar terkendali.
Dari Penolakan hingga Titik Dihormati: Ujian Nyata di Lereng Saitkalangan
Misi kemanusiaan tidak pernah sekadar tentang membentangkan spanduk atau membagikan kardus bantuan dari atas kendaraan. Di balik berdirinya posko-posko pemulihan, tersimpan cerita tentang keringat, kecurigaan, gesekan, hingga air mata penerimaan yang mahal harganya.
Ketika pertama kali menginjakkan kaki di tanah bencana, kedatangan kami tidak disambut dengan karpet merah. Kami datang bukan untuk sekadar datang, membawa logistik instan, lalu pergi seperti kebanyakan lembaga swadaya masyarakat (LSM) lain yang kerap meninggalkan ketergantungan. Kami datang membawa sebuah konsep yang asing bagi mereka di awal: meminta warga untuk berkumpul, bangkit, dan menyelesaikan persoalan mereka dengan tangan mereka sendiri.
Pendekatan ini sempat memicu resistensi keras. Kami dicurigai, diragukan, bahkan diusir. Bentrok pemahaman dengan berbagai pihak luar yang terbiasa memberi secara instan menjadi menu sehari-hari. Namun, prinsip dasar kami tetap kokoh berpegang pada filosofi lapangan: “Datangilah mereka, hiduplah bersama mereka. Mulailah dengan apa yang mereka ketahui. Bangunlah dari apa yang mereka ketahui, dan ketika pekerjaan selesai, tugas tercapai, masyarakat akan berkata: 'Semua ini kami lakukan sendiri.'”
Untuk membuktikannya, kami menembus batas terisolasi dengan berjalan kaki selama tujuh hingga sepuluh jam menuju Desa Saitkalangan—titik paling atas yang sama sekali tidak bisa dilewati oleh kendaraan bermotor. Di sana, di tempat asing yang belum kami kenal, kami langsung diadang dan diinterogasi ketat oleh masyarakat setempat.
Alih-alih menjaga jarak sebagai relawan dari kota, kami memilih lebur. Kami hidup berdampingan, merasakan langsung kepedihan sebagai korban, bahkan menyambung hidup hanya dengan makan nasi berlauk durian di tengah kegelapan malam tanpa aliran listrik.
Mengubah Pendekatan: Dari Bantuan Menuju Kemandirian
Kami menyadari bahwa memberikan logistik tanpa memberdayakan hanya akan melahirkan mentalitas pasif. Karena itu, strategi kami murni melakukan pendampingan asesmen. Kami membimbing warga agar mampu mengenali kebutuhan riil mereka sendiri, menyusun data secara transparan, hingga belajar merumuskannya ke dalam bentuk proposal resmi agar bantuan dari berbagai pihak bisa tepat sasaran.
Momen paling mengharukan terjadi ketika antusiasme warga meledak melampaui perkiraan. Siapa sangka, warga yang usianya tidak lagi muda dengan penuh semangat belajar dasar-dasar pengoperasian komputer. Mereka mencatat setiap trik kecil tata cara mengetik hingga jalan pintas di papan tik, seperti Ctrl+C dan Ctrl+V, lalu menempelkannya di dinding posko sebagai catatan penting. Semangat belajar yang menyala-nyala dari tengah reruntuhan itu membuktikan satu hal: mereka tidak ingin dikasihani, mereka ingin mandiri.
Semua ketangguhan mental, manajemen konflik, transparansi data, dan keteraturan struktur ini bukanlah sesuatu yang lahir begitu saja. Bekas-bekas gemblengan di organisasi mahasiswa pecinta alam—mulai dari dinamika berorganisasi, kebiasaan bermusyawarah memecahkan masalah pelik, hingga kepemimpinan lapangan—kami leburkan langsung ke tengah masyarakat. Dan hari ini, kerja keras serta pendekatan humanis itu membuahkan hasil nyata yang diakui dan dijalankan sendiri oleh warga.
Membangun Ketahanan, Menembus Kebijakan: Dari Posko Lapangan hingga Meja Pemerintah
Kehadiran posko ini melampaui konsep tanggap darurat konvensional. Bukan sekadar mendistribusikan bantuan logistik harian, misi ini berfokus total pada pembangunan kemandirian warga. Program pendampingan yang dirintis dirancang secara matang agar masyarakat setempat memiliki ketahanan jangka panjang dalam menghadapi potensi krisis di masa depan.
Pendekatan berkelanjutan yang aplikatif dan berdampak nyata ini menarik perhatian luas hingga tingkat strategis.
Model pemulihan yang diinisiasi bahkan berhasil dipresentasikan secara langsung kepada pejabat tinggi, termasuk Bupati Gayo Lues, Suhaidi, S.Pd., M.Si., menjadikannya salah satu program utama masa pemulihan kebencanaan yang dioperasikan secara sinergis bersama pemerintah provinsi. (26/01/26)
Penyematan Kain ULOS : Ketika Relawan Menjadi Keluarga
Setelah lima bulan berjibaku dengan lumpur, medan berat, dan denyut kehidupan penyintas, masa penugasan pun harus ditutup. Suasana haru menyelimuti malam perpisahan di Desa Saitkalangan II, Jumat (24/4/26).
Sebuah jamuan makan malam sederhana menjadi saksi eratnya ikatan yang terjalin. Jonter Simatupang, Kepala Posko sekaligus Ketua PMPB HUNTAR, menyampaikan kalimat yang meruntuhkan sekat formalitas antara relawan dan warga.
“Setiap pertemuan pasti ada perpisahan, tapi bukan berarti saling melupakan. Kalian bukan lagi relawan, melainkan sudah menjadi keluarga kami. Aku tulang-mu, kalian bere-ku. Horas!” ujar Jonter penuh haru.
Puncak emosional terjadi ketika para tokoh masyarakat menyematkan kain ulos—kain kebanggaan Tanah Batak—kepada para relawan. Ulos bukan sekadar cinderamata; ia adalah simbol kasih sayang, doa, dan legitimasi kultural bahwa para pemuda Bandung ini kini telah diterima seutuhnya sebagai bagian dari keluarga besar Hutaraja.
Dari jalur pendakian hingga posko pemulihan bencana di ujung Sumatra, Gemarawana telah membuktikan bahwa jiwa korsa seorang penggiat alam tidak berhenti pada luhurnya pelestarian lingkungan. Ketika alam memanggil dan sesama manusia berduka, jiwa korsa itu menjelma menjadi tangan yang merangkul, komando yang diandalkan, dan sebuah keluarga baru yang terikat untuk selamanya.
Lhse Zihni Naufal Zuhri — GR-XV.08.2050.73
Sebagai Komandan Lapangan Operasi
Muhammad Ansyari Farhan — GR-XVII.11.2050.90
Sebagai Penghubung External Operasi
Terima kasih yang tak terhingga kami haturkan kepada seluruh saudara-saudara kami di Saitkalangan, Hutaraja, Gayo Lues, dan seluruh tanah Aceh serta Sumatra Utara. Jarak mungkin akan memisahkan Bandung dengan tanah Sumatra, namun ikatan kekeluargaan, pelukan hangat para tetua, serta sapaan persaudaraan di posko-posko penanggulangan bencana akan selalu abadi di dalam dada. Horas! Mejuah-juah! Tabik pun, dari kami untuk seluruh keluarga kami di sana.



