GEMARAWANA - Desa Sumberwringin berada di kaki Gunung Raung, Kecamatan Sumberwringin, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Udara yang sejuk dan tanah yang subur membuat pertanian dan perkebunan menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat. Kopi, alpukat, durian, jagung, dan cengkeh menjadi beberapa hasil yang dikembangkan warga. (12/09/26)
Pada 2024, Desa Sumberwringin juga masuk dalam 100 Besar Anugerah Desa Wisata Indonesia. Namun, kehidupan desa ini tidak berhenti pada potensi perkebunan dan wisata. Ada sumber mata air yang berkaitan dengan asal-usul nama desa, tradisi yang masih dijalankan, serta kawasan alam yang menyimpan cerita tersendiri.
Selama beberapa hari berada di Sumberwringin, tim Pengembaraan Gemarawana 18 mencoba melihat desa ini lebih dekat melalui wawancara dengan warga dan pengelola wisata, sekaligus mengamati langsung kehidupan dan lingkungan di sekitarnya.
Beberapa hari berada di Sumberwringin membuat perjalanan ini tidak berhenti pada kunjungan dari satu tempat ke tempat lainnya. Setiap lokasi yang didatangi membawa cerita yang berbeda. Perkebunan memperlihatkan bagaimana alam menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat, sementara berbagai objek wisata menunjukkan potensi yang dimiliki desa dan bagaimana potensi tersebut dikelola.
Di sisi lain, pertemuan dengan masyarakat memperlihatkan bahwa Sumberwringin tidak hanya menarik karena pemandangannya. Ada cerita tentang asal-usul desa, tradisi yang masih dijalankan, serta cara masyarakat memandang alam dan sumber daya yang mereka miliki. Dari sana, perjalanan ini menjadi kesempatan untuk melihat Sumberwringin tidak hanya sebagai sebuah tempat yang dikunjungi, tetapi sebagai ruang hidup yang memiliki hubungan erat antara alam, masyarakat, dan kebudayaan.
Melalui wawancara dan pengamatan selama berada di lapangan, tim menemukan bahwa setiap hal yang terlihat memiliki cerita di baliknya. Sumber air bukan hanya bagian dari lingkungan, kopi bukan sekadar hasil perkebunan, dan tradisi bukan hanya sebuah pertunjukan. Semuanya menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang terus berjalan dan diwariskan.
Nama yang Lahir dari Sumber Air dan Pohon Beringin
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, nama tersebut berkaitan dengan penemuan sumber mata air jernih di tengah hutan yang berada tepat di bawah pohon beringin. Dalam bahasa Jawa, beringin disebut wringin. Dari perpaduan dua unsur itulah nama Sumberwringin lahir.
Ada pula kisah tentang Ki Jenggodo yang mencari anaknya hingga menemukan sumber air di bawah pohon wringin. Keberadaan air dan tanah subur itulah yang kemudian menarik orang-orang untuk menetap dan membentuk permukiman.
Tahun pasti berdirinya desa ini memang belum dapat dipastikan dari penuturan narasumber. Tapi justru itulah yang menarik, sejarah Sumberwringin tidak hanya hidup dalam dokumen tertulis. Ia juga hidup melalui cerita yang terus diwariskan dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi.
Kopi, Alpukat, dan Kehidupan yang Tumbuh dari Tanah
Berjalan menyusuri Sumberwringin berarti berjalan di antara perkebunan.
Kopi Arabika Java Ijen-Raung menjadi salah satu produk unggulan desa, dan bukan barang baru. Menurut warga, kopi telah menjadi mata pencaharian masyarakat sejak zaman Belanda. Hingga sekarang, perkebunan kopi masih menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari, berdampingan dengan alpukat, durian, jagung, dan cengkeh yang juga dikembangkan warga.
Kopi Sumberwringin bahkan sudah masuk dalam catatan warisan biologi Ijen UNESCO Global Geopark. Pengunjung Desa Wisata Sumberwringin bisa ikut langsung dalam atraksi edukasi kopi, mulai dari melihat kebun, memilih buah yang siap dipetik, hingga mengenal proses pengolahan dan roasting.
Yang menarik adalah cara masyarakat memandang potensi ini. Bagi mereka, kemajuan desa bukan soal mengejar predikat atau angka statistik. Yang lebih penting adalah masyarakat punya pekerjaan dan bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Pariwisata dan perkebunan hadir sebagai sarana, bukan tujuan akhir.
Pohon Warna-Warni, Ketika Alam Melukis Sendiri
Tidak jauh dari perkebunan, ada satu objek yang membuat pengunjung berhenti dan memandang lebih lama yaitu Pohon Warna-Warni.
Warna pada batangnya bukan hasil cat atau pewarna buatan. Gradasi warna itu muncul secara alami dari getah pohon, menciptakan tampilan yang terlihat seperti hasil karya seni. Tidak perlu rekayasa, tidak perlu instalasi, alam mengerjakan semuanya sendiri.
Keberadaan pohon ini sekaligus menjadi pengingat bahwa daya tarik wisata tidak selalu harus diciptakan. Tantangannya justru ada di sisi pengelolaan yaitu bagaimana cara kita menjaga agar keunikan alami itu tetap utuh, tidak terganggu oleh terlalu banyak sentuhan manusia yang justru bisa merusaknya.
Air Terjun Pelangi, Ada Waktu Terbaik untuk Datang
Sumberwringin juga memiliki Air Terjun Embun Pelangi, dan nama itu bukan sekadar nama.
Fenomena pelangi memang benar-benar muncul di sini, tapi tidak sembarang waktu. Menurut pengelola, pelangi biasanya terlihat sekitar pukul sembilan pagi, ketika cahaya matahari dan percikan air bertemu pada sudut yang tepat. Di luar waktu itu, tidak ada jaminan pelanginya akan muncul.
Air terjun ini sudah dikenal masyarakat sekitar selama kurang lebih sembilan tahun. Tapi untuk sampai ke sana, pengunjung masih harus berhadapan dengan akses jalan yang belum memadai dan fasilitas yang terbatas. Pengelolaan kawasan pun belum bisa dilakukan secara maksimal karena keterbatasan dana.
Di balik itu semua, harapannya sederhana yaitu suatu hari nanti ada fasilitas yang memungkinkan warga berjualan di sekitar lokasi, sehingga masyarakat sekitar juga bisa merasakan manfaat dari keberadaan wisata ini, bukan hanya menyaksikannya dari jauh.
Gunung Suket, Lebih dari Sekadar Puncak
Dari wisata air, perjalanan berlanjut ke kawasan pegunungan yaitu Gunung Suket.
Nama 'Suket' berasal dari bahasa Jawa yang berarti rumput, merujuk pada vegetasi yang mendominasi kawasan ini. Selain ilalang, ada pula tumbuhan yang warga kenal sebagai langtolangan, yang bisa tumbuh kembali dengan cepat setelah ditebas. Itu sebabnya jalur yang jarang dilalui bisa tertutup dalam waktu singkat.
Gunung Suket berada di kawasan Pegunungan Ijen dan memiliki peran yang lebih besar dari sekadar tujuan pendakian. Kawasan hutan di sini berfungsi sebagai penyangga ekosistem, menjaga keseimbangan lingkungan dan mengurangi risiko banjir di wilayah sekitarnya. Ia juga menjadi habitat satwa liar, termasuk babi hutan, macan kumbang, dan berbagai jenis burung.
Kalau kawasan ini nantinya dikembangkan sebagai jalur pendakian, aspek keselamatan dan perlindungan lingkungan harus jadi prioritas, bukan hanya sebagai pelengkap. Vegetasi ilalang yang rapat membuat risiko kebakaran menjadi ancaman nyata yang tidak bisa diabaikan.
Nyonteng Kolbuk, Syukur yang Dimulai dari Sumber Air
Di Sumberwringin, air bukan sekadar kebutuhan. Ia adalah bagian dari identitas.
Tradisi Nyonteng Kolbuk, kolbuk merujuk pada sumber mata air, tradisi ini dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas keberadaan sumber air yang menopang kehidupan masyarakat. Tradisi ini bukan ritual singkat. Rangkaiannya panjang yaitu penyembelihan kambing, proses memasak, penyajian, doa bersama, hingga penguburan kepala kambing. Seluruh pesertanya adalah laki-laki, dan kegiatan bisa dimulai sejak selepas subuh hingga sore hari.
Malam harinya, kadang ada kesenian seperti gedruk. Masyarakat Sumberwringin juga mengenal kesenian lain seperti mamacah, Singalung, dan Totaander, meskipun beberapa di antaranya sudah mengalami perubahan seiring waktu.
Nyonteng Kolbuk tetap bertahan. Bahkan kini dikemas dalam kegiatan budaya seperti Festival Bumi Raung, sehingga tradisi ini tidak hanya hidup di lingkup masyarakat setempat, tapi juga bisa dikenal lebih luas
Pojhian dan Ohjung, Harapan di Ujung Musim Kemarau
Ketika hujan lama tidak turun, masyarakat Bondowoso tidak hanya berdiam diri.
Pojhian juga dikenal sebagai Pojian atau Pepujen adalah tradisi yang dilakukan sebagai permohonan agar hujan turun, sekaligus menyambut bulan Ramadan. Salah satu bagian paling mencolok dari tradisi ini adalah aksi memanjat bambu yang cukup tinggi, diiringi dengan iringan gamelan dan kendang. Tradisi ini memiliki akar kuat di wilayah Kecamatan Sumber Wringin dan dikaitkan dengan kisah leluhur Desa Sukorejo bernama Ki Remas.
Tradisi lain yang juga berkaitan dengan permohonan hujan adalah Ohjung atau Ojung. Berbeda dari Pojhian, Ohjung lebih dikenal sebagai tradisi masyarakat Madura dan Pandalungan di kawasan Tapal Kuda, termasuk Bondowoso.
Bentuk pertunjukannya keras secara fisik yaitu dua laki-laki berhadapan, bertelanjang dada, saling mencambuk menggunakan rotan pada bagian-bagian tertentu dari tubuh mereka, dipimpin seorang wasit. Tapi Ohjung bukan tentang kekerasan. Setelah pertandingan usai, kedua peserta saling bermaafan dan berangkulan. Dalam kepercayaan masyarakat, bekas cambukan yang mengeluarkan darah dipercaya sebagai tanda bahwa hujan akan segera turun.
Pojhian dan Ohjung memperlihatkan sesuatu yang menarik tentang cara manusia berhubungan dengan alam, ketika hujan menjadi kebutuhan yang paling mendasar, kebudayaan menjadi wadah untuk menyampaikan harapan itu dalam bentuk yang jauh lebih dalam dari sekadar doa.
Desa yang Hidup dari Kerukunannya
Di balik semua potensi alam dan tradisinya, Sumberwringin memiliki satu hal yang tidak terlihat tapi terasa yaitu kerukunan.
Masyarakat dengan latar belakang agama yang berbeda hidup berdampingan. Gereja dan pesantren bisa berada di lingkungan yang berdekatan tanpa menimbulkan gesekan. Gotong royong masih menjadi bagian dari keseharian.
Harapan warga terhadap generasi muda pun sederhana yaitu bisa menyaring informasi dengan bijak, tidak mudah terpengaruh hal-hal negatif, dan terus menjaga persatuan. Sementara bagi desa secara keseluruhan, harapannya adalah masyarakat yang mandiri, bukan desa yang sekadar ramai dikunjungi, tapi desa yang warganya benar-benar merasakan manfaatnya.
Lebih dari Sekadar Destinasi
Sumberwringin adalah tentang sumber mata air yang menjadi bagian dari cerita lahirnya sebuah desa. Tentang kopi yang tumbuh di lereng pegunungan dan sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat jauh sebelum ada yang menyebutnya 'wisata edukasi'. Tentang Pohon Warna-Warni yang indah justru karena tidak ada campur tangan manusia di dalamnya.
Tentang Air Terjun Pelangi yang mengajarkan bahwa ada waktu terbaik untuk setiap hal, dan tidak semua keindahan bisa dipesan sesuka hati. Tentang Gunung Suket yang lebih dari sekadar puncak, ia adalah ekosistem yang menghidupi wilayah di sekitarnya. Tentang Nyonteng Kolbuk yang mengajarkan bahwa air bukan sekadar sumber daya, melainkan sesuatu yang layak untuk disyukuri.
Dan tentang Pojhian serta Ohjung yang memperlihatkan bahwa kebudayaan lahir bukan dari kemewahan, melainkan dari kebutuhan yang paling mendasar, termasuk kebutuhan akan hujan.
Yang paling penting dari semuanya, tentang masyarakat yang ada di balik semua itu. Karena pada akhirnya, sebuah desa tidak hanya hidup dari apa yang dimilikinya. Ia hidup dari orang-orang yang menjaga, merawat, menceritakan, dan mewariskan apa yang mereka punya.
Sumberwringin bukan hanya tempat yang indah untuk dikunjungi. Ia adalah tempat yang memiliki cerita untuk didengar, tradisi untuk dipahami, dan alam yang perlu dijaga.
— Selesai —



