Menembus Kabut Sejarah: Jejak Sunyi Jenderal Amir Mahmud di Pelukan Misterius Gunung Kadaka
Alam dan sejarah sering kali menyimpan rahasianya di tempat-tempat yang paling tak terduga. Di balik rimbunnya hutan Kabupaten Sumedang, sebuah ekspedisi penting kami lakukan untuk menyingkap tabir masa lalu yang terkubur sunyi.
Perjalanan Anggota Muda Gema Rawana Menguak Misteri
Kami dari Gema Rawana, organisasi penggiat alam dari Telkom University yang berkomitmen mengecam kerusakan alam serta turut mengabdi melalui pelestarian lingkungan, baru saja merampungkan sebuah misi monumental. Melalui majalah hasil perjalanan pengembaraan Anggota Muda Angkatan XV, kami mendokumentasikan keasrian alam dan kekayaan budaya di Jawa Barat lewat tajuk "Pemetaan Jejak Jenderal Amir Mahmud di Gunung Kadaka".
Tim kami yang terdiri dari Naufal, Deco, Teza, Renisa, Rakha, Paulina, Apsari, dan Aimar terjun langsung mengeksplorasi setiap sudut medan. Dedikasi kami menjadi kunci dalam menghadirkan arsip informatif bagi masyarakat luas mengenai sejarah yang tersembunyi di balik lebatnya hutan Sumedang. (25/06/23)
Gunung Kadaka: Saksi Bisu Strategi dan Nilai Sakral
Terletak di Desa Kadakajaya, Kabupaten Sumedang, Gunung Kadaka menyimpan misteri jalur yang belum sepenuhnya terpetakan. Minimnya literatur mengenai medan pendakian serta potensi sejarah yang besar menjadi tantangan tersendiri bagi kami. Di gunung inilah, Jenderal Amir Mahmud—tokoh kunci di balik peristiwa Supersemar—pernah menyusun strategi gerilya saat masa revolusi.
Bagi masyarakat sekitar, Gunung Kadaka bukan sekadar hamparan hutan, melainkan kawasan sakral yang dijaga oleh nilai-nilai spiritual dan pantangan adat. Kami di Gema Rawana melakukan navigasi medan terbuka dan tertutup untuk membuka akses informasi menuju Lembah Tengkorak, sekaligus mendokumentasikan situs sejarah sang Jenderal agar dapat menjadi panduan bagi penjelajah masa depan yang ingin mengenal harmoni antara sejarah bangsa dan kearifan lokal.
Jenderal Amir Mahmud: Dari Gerilya hingga Pusat Kekuasaan
Jenderal Amir Mahmud jauh lebih dari sekadar pejuang gerilya biasa. Beliau adalah salah satu tokoh kunci dalam peristiwa Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) yang mengubah peta politik Indonesia. Jauh sebelum beliau berdiri di pusat kekuasaan, Gunung Kadaka telah menjadi saksi bisu ketangguhannya dalam taktik gerilya melawan penjajah.
Hubungan sang Jenderal dengan Kadaka terikat kuat melalui jalur perjuangan Divisi Siliwangi. Kawasan ini merupakan basis strategis tempat beliau mengatur pergerakan pasukan dan berlindung dari pengepungan Belanda. Situs petilasan yang kami temukan di kawasan puncak bukan sekadar tumpukan batu, melainkan jejak autentik dari seorang prajurit yang nantinya akan mengantarkan bangsa ini ke gerbang Orde Baru.
Kehangatan Budaya: Tari Reak dan Tarawangsa
Ekspedisi ini tidak hanya berbicara tentang petualangan fisik di medan yang ekstrem, tetapi juga tentang kedekatan kami dengan masyarakat lokal. Kehadiran kami disambut dengan kehangatan luar biasa melalui pementasan tarian adat yang memukau. Tari Reak dan Tarawangsa menjadi puncak penemuan budaya sekaligus bentuk penyambutan sakral bagi tim kami di Desa Cibunar.
Menggunakan instrumen dawai dan kecapi, kesenian khas Rancakalong ini merupakan bentuk penghormatan mendalam masyarakat kepada Dewi Sri atas kesuburan tanah dan perlindungan alam. Perjumpaan ini meninggalkan kesan mendalam bagi warga lokal maupun kami selaku mahasiswa. Seperti yang diungkapkan oleh Bapak Koswara (yang akrab disapa Pak Gapruk):
"Sangat berkesan sekali kami bisa bertemu, mengantar, sekaligus melihat pengabdian dari rekan-rekan mahasiswa Telkom University di penelitiannya beberapa hari ini kepada warga lokal di dusun kami."
Ekspedisi ini membuktikan bahwa kecintaan pada alam dapat berjalan seiring dengan upaya merawat warisan sejarah dan budaya Nusantara. Sebuah perjalanan yang tidak hanya memetakan jalur pendakian, tetapi juga merajut kembali memori kolektif bangsa yang tersembunyi di balik hijaunya bumi Sumedang. (01/07/23)



